Aliciakomputer’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Guru Agama Islam

  1. Pengertian Guru Agama Islam

Guru adalah orang yang tugasnya mendidik baik di dalam maupun diluar sekolah, karena itu guru juga disebut pendidik.

Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa guru adalah orang yang pekerjaannya ( mata pencahariaanya) mengajar.[1] Menurut beberapa tokoh pendidikan seperti Muh. Uzer Usman mendefinisikan guru sebagai jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Menurut Irsyat guru adalah jabatan profesi yang mengabdikan jasanya dalam dunia pendidikan.[2] Guru agama Islam adalah aparat fungsional secara langsung melaksanakan tugas mengajar mata pelajaran pendidikan agama islam di sekolah umum sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.[3]

Guru agama Islam mempunyai tugas dan tanggung jawab ganda yaitu selain mengajar dan membelajarkan pengetahuan agama Islam kepada siswa, ia juga bertanggung jawab membina dan mengarahkan kepribadian siswa agar menjadi anak yang bertaqwa, saleh berkepribadian luhur dan sopan santun. Demikian pentingnya pendidikan dan beratnya tugas guru agama, maka guru agama membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan, keterampilan dan ilmu yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas yang mulia itu. Setiap guru agama yang berkualitas menguasai ilmu pendidikan dan psikologi yang berkaitan dengan pertumbuhan jiwa dan perkembangan jiwa siswa sehingga olehnya dapat di emban dengan lancar, menarik dan berhasil dengan baik.[4]

2. Syarat – syarat menjadi Guru Agama Islam

Tidak sembarangan seorang dapat menduduki profesi guru agama, hal ini disebabkan oleh beratnya kewajiban dan tangung jawab yang dipikulnya, terutama tugas mendidik dan mengajar agama kepada siswa. Untuk menjadi guru agama yang baik tidaklah mudah karena memerlukan syarat sebagai berikut :

a.1. Syarat umum

1) Bertaqwa kepada Allah.

2) Beriman.

3) Sehat jasmani.

4) Berakhlak mulia.

 

 

Berakhlak mulia bagi guru adalah :

1) Mencintai jabatannya sebagai guru.

2) Bersikap adil terhadap siswa.

3) Berlaku sabar dan tenang.

4) Berwibawa.

5) Bergembira.

6) Bersifat manusiawi.

7) Mampu bekerjasama dengan guru – guru lain.

8) Mampu bekerja sama dengan masyarakat. [5]

b. 2. Syarat formal

1) Mengikuti dan berijazah pendidikan formal.

2) Mengikuti dan mempunyai surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan (STTPL) kedinasan.

3) Guru agama sehat jasmani dan rohani.[6]

c. 3. Syarat non formal

1) Memiliki loyalitas terhadap pemerintah.

2) Berakhlak mulia.

3) Memiliki dedikasi terhadap tugasnya sebagai guru agama

 

 

Ditegaskan lagi oleh H.M.Arifin yang dikatakan bahwa syarat guru agama menurut islam adalah sebagai berikut :

1) Ia orang beragama

2) Mampu bertangung jawab atas kesejahteraan agama

3) Ia memiliki panggilan hati nurani .[7]

d. 4. Syarat keguruan

1) Menguasai ilmu yang akan diajarkan.

2) Mengerti ilmu didaktika dan tahu cara mengajar (metodik).[8]

3. Tugas Pokok Guru Agama Islam

Guru agama mempunyai banyak tantangan antara lain ia berkewajiban menjaga perasaan siswanya, sabar dalam melaksanakan tugas, mempunyai perhatian yang sama kepada seluruh siswa, mampu memberikan materi pendidikan agama Islam secara tepat, mampu mendorong siswanya mencapai tujuan, menegur dan menilai hasil belajar. Guru agama berkemampuan memahami pola pikir siswanya karena siswa merupakan salah satu komponen dalam proses belajar dan pembelajaran.

Sebagaimana diketahui bahwa tugas profesi guru termasuk guru pendidikan agama Islam adalah pengajar, pendidik, pelatih, penilai proses hasil belajar dan pembelajaran yang merupakan satu kesatuan dari seluruh komponen pembelajaran. Di bawah ini dikemukakan komponen pembelajaran, yaitu:

a. Guru sebagai pengajar

Mengajar adalah kegiatan yang dilakukan guru dalam mengelola bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya kepada siswa sesuai dengan pedoman dan petunjuk akademik.

Sebuah kegiatan dapat dikatakan sebagai tindakan mengajar jika kegiatan itu didasarkan rencana yang matang dan teliti. Rencana itu disusun untuk menimbulkan kegairahan belajar dengan baik pada siswa”.[9]

Dalam proses belajar dan pembelajaran yang pertama kali dilakukan adalah merumuskan tujuan Instruksional Khusus ( TIK) yang hendak dicapai, menentukan materi pelajaran yang akan disajikan, menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan sehingga semua materi yang dibelajarkan dapat diterima siswa. Dalam pembelajaran ia menggunakan alat peraga yang dapat digunakan untuk memperjelas dan mempermudah siswa menerima materi pelajaran tersebut.

Langkah yang terakhir adalah menentukan alat evaluasi yang dapat mengukur tercapai tidaknya tujuan sebagai feedback bagi guru dalam upaya meningkatkan kualitas mengajarnya maupun kuantitas belajar siswa. Tujuan belajar yang hendak dicapainya diusahakan secara maksimal dengan tindakan – tindakan pedagogis.

 

 

Prinsip – prinsip metode mengajar diantaranya sebagai berikut :

1) Setiap metode mengajar senantiasa bertujuan, artinya pemilihan dan penggunaan suatu metode mengajar berdasarkan pada tujuan yang hendak dicapai.

2) Pemilihan suatu metode mengajar mampu memberi kesempatan belajar bagi siswanya.

3) Metode mengajar dapat dilaksanakan lebih efektif apabila dibantu oleh alat bantu mengajar.

4) Didalam pengajaran tidak ada suatu metode mengajar yang dianggap paling baik dan paling sempurna, metode yang baik bila dapat mencapai tujuan belajar.[10]

Guru agama dalam melaksanakan tugasnya berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi siswa, dan berusaha lebih terampil dalam memecahkan masalah. Di bawah ini dikemukakan perangkat tugas guru agama di kelas yaitu:

1) Menghubungkan materi pembelajaran dengan sesuatu yang sedang dipelajari siswa dengan sesuatu yang telah diketahui, sehingga memberikan tambahan pengalaman kepada siswa.

2) Mendefinisikan secara jelas kenapa ilmu pengetahuan tertentu yang diajarkan, misalnya tentang ibadah.

3) Membahas masalah yang telah dipelajari bagian demi bagian sehingga jelas bagi siswa.

4) Mensintesiskan bagian – bagian yang telah dibahas ke dalam suatu konsep yang utuh sehingga memiliki arti yang jelas, yaitu hubungan antara bagian yang satu dan yang lain sehingga jelas.

5) Mengajukan beberapa pertanyaan yang berarti kepada siswa.

6) Mereaksi atau menanggapi pertanyaan siswa.

7) Mendengarkan dan memahami siswa dan berusaha menyederhanakan setiap masalah, sehingga tidak menyulitkan siswa.

8) Menciptakan kepercayaan diri kepada seluruh siswa tentang ilmu dan keterampilan yang telah dibelajarkan kepada mereka.

9) Memberikan pandangan yang bervariasi yaitu melihat bahan yang dipelajari dari berbagai sudut pandang sehingga jelas dan dikuasai siswa.

10) Menyesuaikan metode pembelajaran yang digunakan dengan kemampuan dan tingkat perkembangan siswa serta menghubungkannya materi baru yang dipelajari.[11]

Seorang guru agama memiliki peranan yang sangat penting dalam Islam, sebagaimana yang dikemukakan dalam salah satu Hadits Rosulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Tarmuzi sebagai berikut:

إِنَّ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَلاَ ئِكَةِ وَأَهْلِ سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى حُجْرِ هَا وَحَتَّى الْحُوْ تَ فِي اْلبَحْرِ لِيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِي النَّاسَ الْخَيْر)رواه الترمذي (

 

Artinya : “Sesungguhnya Allah SWT, Malaikat, penghuni- penguhuni langit dan bumi –Nya, termasuk semut dalam lubang – lubangnya dan termasuk ikan dalam laut akan mendoakan keselamatan bagi orang – orang yang mengajar manusia kepada kebaikan” ( HR. Tarmuzi ).[12]

b. Mendidik

Mendidik adalah kegiatan guru dalam memberi contoh, tuntunan, petunjuk dan keteladanan yang dapat ditiru siswa untuk diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas maka seorang guru agama yang profesional tentu:

1) Mampu merumuskan tujuan yang ingin dicapai

2) Memahami dan menghayati tugas dan profesi sebagai guru agama

3) Mampu menjadikan orang tua kedua di sekolah.

4) Memiliki sifat – sifat terpuji dan menjauhkan diri dari sfat – sifat tercela.[13]

c. Melatih

Melatih adalah kegiatan yang di lakukan guru membimbing, memberikan contoh dan petunjuk praktis yang berkaitan dengan gerakan, ucapan dan perbuatan lainnya dalam upaya mengembangkan aspek psikomotorik (keterampilan) siswa. Dalam kegiatan melatih ini juga terdapat proses mengajar dan mendidik.[14]

Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intektual maupun motorik sehingga menuntut guru agama untuk bertindak sebagai pelatih. Dalam kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, kepada semua guru selalu memberi latihan kepada siswa agar mereka menguasai kompetensi dasar, dan mahir dalam keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi yang standar. Guru berperan sebagai pelatih yang bertugas melatih siswa dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan potensi siswa masing – masing.

Pelatihan yang dilakukan yaitu berorientasi kepada kompetensi dasar dan materi standar, guru juga berkewajiban memperhatikan perbedaan individu siswa dan lingkungannya.

d. Melakukan evaluasi

Menilai adalah salah satu profesi guru untuk mengukur dan mengetahui tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar dan pembelajaran dikelas. Penilaian dapat di lakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, di samping penilaian hasil yang dilakukan pada akhir kegiatan belajar dan pembelajaran. [15]

Penilaian atau evaluasi merupakan aspek pembelajaran yang kompleks, karena melibatkan latar belakang dan hubungan serta variabel lain yang mempunyai hubungan dengan materi yang dibelajarkan. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, dan proses untuk menentukan tingkat tercapainya tujuan pembelajaran oleh siswa dan oleh guru. Proses penilaian dilaksanakan dengan prinsip adil dan valid sesuai dengan bentuk tes atau non tes, yang digunakan prosedur yang jelas yang meliputi tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.

Penilaian yang dilakukan sangat erat kaitannya dengan hal – hal sebagai berikut yaitu :

(1). Memahami dengan jelas pengertian, tujuan dan fungsi penilaian

(2). Memahami dengan jelas prinsip – prinsip penilaian

(3). Menguasai dengan baik jenis, teknis dan cara penilaian

(4). Menguasai dengan baik penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa

(5). Memahami dengan jelas standar penilaian.[16]

Dengan melakukan penilaian, guru dapat mengetahui tingkat kemajuan belajar siswanya, menempatkan mereka dalam situasi belajar yang tepat sehingga diperoleh umpan balik (feed back) dari kegiatan belajar mengajar yang di lakukan bagi guru yang bersangkutan.

Yaitu menilai diri sendiri, baik sebagai perencana, pelaksana maupun menilai sebagai program pembelajaran. Guru agama yang profesional tentu memiliki pengetahuan yang memadai tentang penilaian sebagai mana memahami hasil belajar. Sebagai perancang dan pelaksana program, guru memerlukan umpan balik dari siswanya untuk menentukan apakah program yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik karena penilaian bukan tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan.

4. Kompetensi Guru

Untuk menjadi guru yang profesional tidaklah mudah, karena ia dituntut memiliki berbagai kompetensi keguruan. Kompetensi yakni kewenangan dan kemampuan melaksanakan profesinya sebagai guru. Kompetensi dasar (Based cpompetence) guru di tentukan oleh tingkat kepekaannya terhadap siswa. Potensi merupakan kemampuan untuk memproses semua rangsangan yang datang darinya.[17] Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris yaitu Competency atau Competence berarti “kemampuan, wewenang atau kecakapan”.[18]

 

 

 

 

Istilah kompetensi memiliki banyak pengertian sebagaimana dikemukakan sebagai berikut:

a. Menurut Broke dan Stone kompetensi merupakan gambaran sebenarnya kualitatif dari prilaku guru yang sangat berarti.[19]

b. Menurut Ngalim Purwanto kompetensi merupakan segala kemampuan yang harus dimiliki oleh guru ( misalnya sifat dan kepribadian) sehingga guru dapat melaksanakan tugasnya dengan benar. [20]

c. Menurut Aminudin Rasyad kompetensi merupakan kemampuan berdasarkan keahlian yang dituntut dan dipelajari dalam jangka waktu tertentu di lembaga pendidikan tinggi, sehingga tugas yang diemban dapat dilaksanakan secara efektif dan bermakna.[21]

Untuk menggunakan metodologi pembelajaran dengan baik dan tepat, maka setiap guru dituntut mengusai kompetensi guru yang dia anggap sebagai profil kemampuan dasar bagi seorang guru, kesepuluh kompetensi guru adalah sebagai berikut :

1. Mampu mengusai materi pembelajaran yang diajarkan ( Mastery of subjeck Matter )

2. Mampu mengelola program belajar mengajar ( Managing the teaching learning program)

3. Mampu mengelola kelas ( Managing the Class Room )

4. Mampu menggunakan media dan sumber belajar ( Managing the media and Teaching Learning Resources)

5. Mampu menggunakan landasan kependidikan ( Managing the Basic of Education)

6. Mampu mengelola interaksi belajar mengajar ( Managing the Teaching Learning Interaction)

7. Mampu menilai prestasi peserta didik ( Managing to Evaluate the Student’s achievement )

8. Mampu mengenali fungsi program bimbingan dan penyuluhan ( Managing the function of Guidance and Counselling)

9. Mampu menyelenggarakan administrasi sekolah (Managing the School Administration )

10. Mampu menguasai prinsip – prinsip penelitian ( Master of basically research) dan menafsirkannya ( interpretation).[22]

Gagasan Norma mengenai Taksonomi kompetensi guru meliputi :

a. Kompetensi guru mengenai jiwa siswa

b. Kompetensi guru untuk merencanakan pengajaran

c. Komptensi guru untuk menampilkan / melaksanakan proses belajar mengajar

d. Kompetensi guru dalam menyelenggarakan / menjalankan kewajiban yang terkait dengan administrasi sekolah

e. Kompetensi guru dalam melaksanakan komunikasi

f. Kompetensi guru dalam mengembangkan keterampilan pribadi. [23]

Setiap guru dituntut mampu untuk memahami fungsinya karena keberadaanya di depan kelas sangat berpengaruh terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaannya sehari – hari disekolah. Pengetahuan dan pemahaman tentang kemampuan guru, akan mendasari pola kegiatannya dalam melaksanakan profesi sebagai guru termasuk guru agama.

Dengan kata lain, kompetensi guru tidak terlepas dari kualitas, wewenang dan tindakan profesional guru itu sendiri dalam profesinya. Dengan demikian, kompetensi guru dalam melaksanakan kewajiban – kewajibannya secara bertanggung jawab.[24] Sehubungan dengan upaya dan peran guru agama dalam mengatasi perilaku menyontek siswa adalah segala usaha atau kemampuan guru agama yang dapat mengatasi perilaku menyontek, ia dituntut mengoptimalkan peranannya sebagai Pembina dan pembimbing sehingga mampu membentuk akhlak siswanya atau lulusan yang beriman, berakhlak mulia, cakap, mandiri, berguna bagi agama Nusa dan Bangsa, terutama untuk kehidupan masa depannya.

 

B. Perilaku Menyontek Sebagai Sikap Menghadapi Ujian

1. Pengertian dan pembentukan sikap

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sikap adalah “ perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian [25] Sikap yang dalam Bahasa Inggris disebut Attitude adalah segala suatu yang bereaksi terhadap suatu perangsang.[26]

Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (Attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang.[27] Sedangkan menurut Sherif ( 1956) mengartikan sikap dengan sejenis motif sosiogonis yang di peroleh melalui proses belajar.[28] atau kemampuan internal yang berperan sekali mengambil tindakan, lebih – lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak dan bersedia beberapa alternatif. Sikap juga suatu individu-individu yang tidak hanya mempunyai gambaran mengenai objek dan subjek disekelilingnya, yang mempunyai perasaan terutama berkaitan erat dengan kebutuhan yang di miliki tiap-tiap individu.[29]

Sikap pada aspek afektif merupakan aspek yang menentukan seseorang bertindak, karena kemauan atau kerelaan bertindaklah yang menentukan seseorang berbuat sesuai dengan sikap yang dimilikinya. Namun demikian aspek yang yang lainnya ikut mempengaruhinya.

Sikap dapat didefinisikan sebagai kesiapan sesorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal – hal tertentu Adapun pembentukan dan perubahan sikap dapat dilakukan melalui empat macam cara : [30]

a Adopsi, yaitu kejadian – kejadian atau peristiwa yang terjadi berulang – ulang dan terus menerus lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi pembentukan sikap.

b. Diferensiasi, yaitu dengan perkembangan intelegensi, bertambahnya pengalaman sejalan bertambahnya usia, maka ada hal yang tadinya dianggap sejenis, kemudian dipandang tersendiri lepas dari jenisnya.

c. Integrasi, yaitu pembentukan sikap, disini secara bertahap dimulai dari berbagai pengalaman yang berhubungan dengan suatu hal tertentu sehingga akhirnya berbentuk sikap mengenai hal tersebut.

d. Trauma, yaitu pengalaman yang tiba – tiba, mengejutkan, meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman yang traumatis dapat juga terbentuknya sikap.[31]

Pembentukan sikap tidak terjadi demikian saja, melainkan melalui proses tertentu, melalui kontak sosial terus menerus antara individu dan individu dan orang di sekitarnya.

2. Pengertian Menyontek Dalam Pelaksanaan Ujian

Menyontek memiliki arti yang beraneka macam, akan tetapi biasanya dihubungkan dengan kehidupan sekolah, khususnya bila ada ulangan dan ujian. Biasanya usaha menyontek dimulai pada waktu ulangan dan ujian akan berakhir, namun demikian tidak jarang usaha tersebut telah dimulai sejak ujian dimulai. [32]

Walaupun kata menyontek telah dikenal, sejak lama namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut tidak dapat ditemukan secara langsung, kata menyontek baru ditemukan pada kata jiplak menjiplak yaitu mencontoh atau meniru ( tulisan pekerjaan orang lain ).[33]

Dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia istilah menyontek memiliki pengertian yang hampir sama yaitu “ Tiru hasil pekerjaan orang lain”. [34] Maka dapat disimpulkan menyontek dalam pelaksanaan ujian adalah mengambil jawaban soal – soal ujian dari cara – cara yang tidak dibenarkan dalam tata tertib ujian seperti : dari buku, catatan, hasil pemikiran temannya dan media lain yang kemudian disalin pada lembar jawaban ujian pada saat ujian berlangsung.

Faktor – faktor Penyebab siswa menyontek saat melaksanakan ujian dan ulangan antara lain adalah : [35]

a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berupa angka dan nilai yang diperoleh siswa dalam test formatif atau sumatif

b. Pendidikan moral baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan dalam kehidupan siswa

c. Sikap malas yang terukir dalam diri siswa sehingga ketinggalan dalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab

d. Anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak SD, karena masa remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan teman- teman sekelasnya

e. Kurang mengerti arti dari pendidikan

Dari beberapa faktor penyebab di atas, dapat dikatakan siswa memiliki masalah di sekolah dan konsep diri yang rendah. Maka sebagai guru agama berkewajiban memberikan motivasi siswa yang menyontek saat ujian dan ulangan dengan membiasakan bersikap jujur dalam setiap perbuatan yang dilakukan siswanya dan membangkitkan konsep percaya diri dan berusaha diri yang lebih baik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam setiap kegiatan secara maksimal guru agama Islam dalam memahami masalah siswa, menurut Muhaimin dan Abd. Mujib adalah sebagai berikut:

1. Siswa bukanlah miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri sehingga metode belajar mengajar tidak boleh disamakan denagan orang dewasa.

2. Siswa mengikuti periode- periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya. Implimintasi terhadap pendidikan adalah bagaimana menyesuaikan proses pendidiakn itu dengan pola dan tempo, serta irama dan perkembangan siswa itu sendiri.

3. Siswa memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin.

4. Siswa memiliki perbedaan antara individu – individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan faktor endogen ( fitrah) maupun eksogen ( lingkungan) yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat dan lingkungan yang mempengaruhinya.

5. Siswa dipandang sebagai kesatuan sistem manusia ( cipta, rasa ,karsa).

6. Siswa merupakan objek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif.[36]

 

3. Cara Mengatasi Perilaku Menyontek

Meskipun tenaga pengajar harus mengambil tindakan untuk mempertahankan dan mengembangkan pola perilaku dipihak siswa yang mendukung belajar disekolah, namun ia akan tetap dihadapkan pada perilaku yang menghambat dan di fromokasikan dengan siswa yang menganggu dan mengancam.

Pada saat ini, tidak dapat disangkal bahwa guru dikelas kerap ditantang untuk mengatasi tingkah laku sejumlah siswa yang deskruftif, lebih – lebih dikota besar. Gejala umum ini bersumber pada berbagai faktor penyebab,yaitu runtuhnya disiplin hidup bersama dalam masyarakat, menipisnya kesadaran dan tanggung jawab sosial banyak kalangan, suasana sekolah yang kurang memberikan kepuasan pada siswa, rasa ketertiban sebagai tenaga kependidikan dipihak sejulah guru yang mengendor.[37] Guru sebagai orang terdekat dalam pembelajaran disekolah, memiliki tanggung jawab membimbing siswa. Tindakan guru pada umumnya dalam pelaksanaan ujian dan ulangan dengan memberikan penguatan dan peneguhan terhadap sikap dan perilaku mereka yang positif, dimana mereka berusaha sendiri menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tertib.

Namun bila tidak ada perilaku positif yang dapat diberikan penguatan dan peneguhan maka dibutuhakan pendekatan lain yaitu:

a. Cuing Promping, yaitu siasat memberikan tanda, guru menyajikan suatu perangsang yang berfungsi sebagai pemberitahuan bahwa siswa diharapkan berbuat sesuatu yang sebenarnya dapat mereka lakukan, tetapi belum dilakukan.

b. Model, yaitu guru memberikan model yang ditiru oleh siswanya.

c. Shaping, yaitu membuat tingkah laku secara berlahan – lahan, yaitu setiap tingkah laku siswa, seperti mengatur buku, menyapa guru atau teman, cara ini memerlukan kesabaran yang sangat dari guru.

Adapun tindakan kuratif guru, berlaku bagi siswa yang sudah terbiasa dengan contek mencontek, dengan memberikan peringatan . bentuk kongkrit dari peringatan dapat bermacam- macam, yaitu :

1. Teguran Verbal, yaitu mendekati siswa tertentu dengan berbicara suara kecil sehingga tidak terdengar oleh teman sekelas.

2. Mengambil suatu hal yang digemari atau disukai siswa, seperti mengikuti kegiatan tertentu atau menyerahkan benda yang dipegangnya.

3. Mengisolasi siswa dari teman – temannya untuk waktu tidak terlalu lama, seperti memindahkannya diruang kosong atau tempat yang jarang dilalui orang.

Jadi dari bentuk tindakan guru yang telah dipaparkan, guru dapat membantu siswanya untuk meninggalkan kebiasaan menyontek dalam ujian atau ulangan dengan berusaha. [38]

a. Membentuk hubungan saling menghargai antara guru –siswa, serta menolong murid bertindak jujur dan tanggung jawab.

b. Membuat dan mendukung peraturan sehubungan dengan menyontek, karena siswa memahami peraturan dari tindakan guru.

c. Mengembangkan kebiasaan dan keterampilan belajar yang baik dan menolong siswa merencanakan, melaksanakan cara belajar siswa.

d. Tidak membiarkan siswa menyontek jika hal tersebut terjadi dalam kelas dengan teguran atau cara lain yang pantas dengan perbuatannya, sebagai penerapan disiplin.

e. Menekankan “ Belajar” lebih sekedar mendapat nilai, yaitu membantu siswa memahami arti belajar sebagai suatu tujuan mereka sekolah, dan nilai akan berarti bila murni dengan kemampuan siswa sendiri.

f. Bertanggung jawab merefleksikan “kebenaran dan kejujuran”, yaitu guru menjadikan diri sebagai teladan siswa dalam menanamkan nilai kebenaran dan kejujuran.

g. Menggunakan test subjektif sebagai dasar proses ulangan dan ujian.


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h.123

[2]H.M Irsyad Juwaeli, Pembaharuan Kembali Pendidikan Islam, ( Jakarta : Karsa Utama Mandiri, 1998 ), h. 20

[3] H.M Irsyad Juwaeli, Pembaharuan Kembali Pendidikan Islam, Op Cit, h. 31

 

[4] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta : Bulan Bintang, 2003 ), h. 125

 

[5] Departemen Agama RI, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta : Multiasa, 1986 ), h. 35

[6] Ibid, h. 37

[7] H.M. Arifin, Hubungan Timbal Balik Agama Di Lingkungan Dan Keluarga, cet, ke – 1, h.108

 

[8] Ibid 109

[9] Team Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya , Metodik Kurikulum Proses Belajar Mengajar, ( Jakarta, PT. Grafindo Persada, 1995), Cet, I, h. 135

[10] Oemar Hamalik, Pengajaran Unit Pendekatan Sistem, ( Bandung : Mandar Maju, 1989 ), h. 98

[11] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 2005 ), h. 59

[12] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 1998) Cet, ke-2,h. 82

[13] Hajirja Paraba, Wawasan Tugas dan Pembina Pendidikan Islam, ( Jakarta: PT. Frika Agung Insani, 2000), h.13

[14] Ibid, h. 11

[15] Syafrudin Nurdin dan M. Basyirudin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum,( Jakarta: Ciputat Press, 2003), Cet. Ke-2, h. 24

[16] Hajirja Paraba, Op Cit, h. 14

[17] Muhaimin Dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofik Dan Kerangka Dasar, ( Bandung : Trigenda Karya, 1993 ), cet. 1, h. 170

[18] John M. Echols Dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, ( Jakarta : Gramedia Pustaka Utam, 1996). Cet. XXIII, H. 132

[19] M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1997), Cet VIII, h. 19

[20] Heri Jauhari, Fiqih Pendidikan, ( Bandung : PT Remaja Rosda Karya ), h. 151

[21] Aminuddin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran, ( UHAMKA Press, Jakarta 2003 )h.117

[22] Aminudin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran, Op Cit h. 116

[23] Balnadi Satadipura, Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental, ( Bandung : Angkasa, 1984 ), cet. 1, h. 1

[24] M.K. Rustiyah, Kompetensi Mengajar dan Guru, ( Jakarta : Masco, 1979), cet. I, h. 17

[25] Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 1999 ), cet. 10, h. 983

[26] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, ( Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2003), Cet.19 , h. 140

[27]Muhibbin Syah, Psikologi Suatu Pendekatan Baru, ( Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995 ), Cet. II, h. 120

[28] Mahmud, Psikologi Pendidikan Mutakir, ( Bandung : Sahifa, 2005), h. 60

[29] Samsunu Wiyati dan Lieke Indiningsih, Perilaku Manusia Pengantar Simgkat Tentang Psikologi, ( Bandung : PT. Rafika Aditama , 2006), Cet I, h. 102

[30] Sarlito Wirawan Warsono, Pengantar Umum Psikologi, ( Jakarta : Bulan Bintang, 1976 ), Cet. 6, h. 93

[31] Ibid, h. 12

[32] Soejono Soekanto, Anak Dan Pola Perikelakuannya, ( Jakarta : P.T. BPK Gunung Mulia, 1986), h. 61

[33] Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, ( Jakarta : Balai Pustaka, 1996), Cet. Ke- 7 Edisi II, h. 416

[34] M. Dahlan Al Barry, Kamus Modern Bahasa Indonesia, (Surabaya: Arkola, 1994), h. 545

[35] Kartini Kartono, Bimbingan Anak Dan Remaja Yang Bermasalah, ( Jakarta: C.V. Rajawali, 1985), h. 45

[36] Muhaimin dan Abd. Mujib, Op Cit, h.177-181

[37] W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran ,( Jakarta : PT. Gramedia Sarana Indonesia, 1996 ), Cet II, h. 342

[38] Kartini Kartono, Op-Cit, h. 89-90

Januari 12, 2008 Posted by | Makalah Agama | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.